Tawuran Mahasiswa : Buah dari Pengekangan
Tawuran, perkelahian, pemukulan, antar mahasiswa atau pelajar serta kemudian aksi anarkis dalam demonstrasi hanyalah salah satu contoh jika disangkutkan dengan runtuh atau mengikisnya moralitas kampus. Lebih dari itu adanya ayam kampus, mami kampus (pelacur dan germo) menjadi hal lain yang menegaskan bahwa kampus memang bukan hanya tempat translitnya calon-calon sarjana, ahli madya, magister dll. Bukan hanya pendidikan formal, namun juga pendidikan non formal yang porsinya lebih besar.
Pendidikan non formal inilah yang seharusnya memang lebih dicermati, karena masalah moralitas tidak dibentuk dari ajaran teks semata, dari ruangan kuliah dan ocehan para dosen maupun kertas ujian. Namun, dari lingkungan didalam kampus diantaranya tongkrongan, organisasi, contoh yang diberikan dosen dan pejabat di kampus dll.
Di kisaran umur mahasiswa yang umumnya tengah mengalami proses kematangan secara fisik dan mental, bisa dibilang sangat labil, lebih labil dibanding pelajar SMA maupun dibawahnya. Faktor penyebabnya adalah pelepasan emosi pasca lepasnya dari bangku sekolah yang cenderung tidak lebih bebas, kebebasan yang baru didapatkan dimasa kuliah itulah yang cenderung mengakibatkan sekelompok mahasiswa mengekspresikan dirinya kearah hal-hal negatif.
Main musik, demonstrasi, beroganisasi, menjadi ayam kampus, mami kampus, kutu buku dll adalah sebuah ekspresi. Sebuah jalan menyalurkan emosi ditengah kebebasan yang didapat.
Kesimpulannya, iklim transparasi, kebebasan berekpresi dll sudah seharusnya diberikan sejak dini. Ini kemudian menyakut sistem pendidikan kita.
Biarkan siswa dari mulai bangku SD melampiaskan berbagai hasratnya, jangan kekang apalagi terlalu mendesaknya untuk melakukan sesuatu hanya dengan alasan aturan bukan kemauan. Sebuah catatan, bahwa disiplin terbentuk ketika orang sudah tahu apa itu ketidak disiplinan. Biarkan proses membentuk dan mengalir dengan alami, dengan begitu ketika seseorang mencapai fase yang lebih tinggi misalnya dalam jenjang pendidikannya, maka Ia dengan sendirinya akan cenderung menyelamatkan dirinya dari hal-hal negatif yang sudah Ia rasakan sebelumya. Selebihnya, pengawasan orang tua pun menjadi faktor penunjang lainnya.
sumber:http:www.karawanginfo.com

0 komentar:
Posting Komentar