Banjir wasior
Banjir bandang terjadi, karena kerusakan hutan di Wasior, sehingga hujan tiada henti yang terjadi sejak Sabtu, 2 Oktober 2010 hingga Minggu, 3 Oktober 2010 menyebabkan Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy meluap.
Banjir yang terjadi menyebabkan banyak infrastruktur di Wasior hancur termasuk lapangan udara di Wasior, sementara kerusakan juga menimpa rumah warga, rumah sakit, dan jembatan. Kerusakan yang terjadi disebabkan banjir yang terjadi membawa serta batu-batuan besar, batang-batang pohon, lumpur. Bencana banjir bandang yang terjadi juga mengganggu hubungan komunikasi, jaringan listrik terputus dan aktifitas masyarakat lumpuh.
Banjir bandang juga menyebabkan 110 orang tewas dan 450 orang masih dinyatakan hilang. Sementara sebagian korban luka-luka dibawa ke Manokwari dan Nabire. Sementara sebagian korban luka lainnya dan warga yang selamat ditampung di tempat-tempat pengungsian. Akibat banjir yang terjadi yang merusak rumah warga dan infrastruktur banyak warga yang selamat memutuskan mengungsi ke Manokwari dengan menggunakan kapal laut.
Menurut Pusat Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), para korban ditemukan setelah upaya evakuasi dilakukan tim pencari termasuk dari SAR dan TNI.
"Korban masih bisa bertambah karena sampai saat ini, tim masih mencari 66 orang lagi yang dilaporkan hilang," kata Untung Sarosa, direktur Perbaikan Darurat BNPB.
Untung yang berada di Wasior sejak banjir terjadi mengatakan upaya pemberian bantuan dan evakuasi terhambat oleh genangan lumpur serta potongan batang kayu dan batu-batu di beberapa titik.
"Jalanan di Wasior ada sekitar 18 kilometer panjangnya, beberapa kilometer di antaranya tidak bisa dilewati kendaraan," tambah Untung.
Banjir bandang, menurut Untung, bersumber dari hujan terus-menerus sepanjang akhir pekan sehingga membawa limpahan air dari bukit-bukit di atas Kota Wasior.
Limpahan air ditambah batu, kayu dan lumpur kemudian merusak infrastruktur sehingga melumpuhkan kota kecil berpenduduk sekitar 5.000 jiwa tersebut.
Tim evakuasi tengah menunggu kedatangan alat berat, yang dijanjikan dikirim dari ibukota provinsi Papua Barat di Manokwari.
solusi :
seharusnya Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengupayakan dan memberikan bantuan kepada korban banjir bandang dengan memberikan bantuan sandang dan pangan serta bantuan obat-obatan.

0 komentar:
Posting Komentar